Super Junior &SeungGi Lovers: Oktober 2011

Minggu, 02 Oktober 2011

0

Gone [Part 2]





GONE PART 2
cast : Lee Teuk, Shin Min Rae
          Wang Seok Hyun as Shin Hae Chul
          Shin Dong Hae
          Nae Ri
          Lee Sung min
          Kim Rye Wook
          Cho Kyuh Yun
          Choi Siwon



“Apa kau yakin Min Rae??”, kata Shin Dong oppa setelah mendengar apa rencanaku bersama janin yang aku kandung ini.


“Bukankah lebih baik jika kau tetap bersama kami, jadi aku dan Shin Dong oppa bisa ikut menjaga kandunganmu”, ucap Nae Ri  eonni  sambil terisak menahan kesedihan melihat keadaanku.

“Mianhae eonni sudah membuat dirimu dan oppa bersedih”, kataku dengan perasaan bersalah melihat eonni q. 

Mereka berdua sudah terlalu banyak berkorban untuk ku. Jadi sudah waktunya aku membiarkan mereka bahagia dan tidak terus menerus menjadi duri bagi hidup mereka.

“Tapi, aku benar-benar sudah yakin dengan keputusanku.. Aku akan pergi ke Amerika, demi anak yang sedang dalam kandungan ku ini”, ucapku sambil mengelus perutku yang semakin membesar itu.

“Min Rae, kau adik ku. Sudah sewajarnya aku menjagamu”, kata Shin Dong Oppa lagi.

“Ya, q tau oppa. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin melakukan semuanya sendiri. Untuk melindungi anak q aku harus pergi sementara waktu. Mianhae oppa, cheongmal mianhae”, kataku sambil menangis.

Tiba-tiba saja Nae Ri eonni memeluk q, dan menangis.
 Aku bisa merasakan perasaannya, aku bisa melihat kesedihannya karena tidak bisa melindungi q dari semua ini. Karena inilah aku sangat menyayangi mereka berdua.

“Kau harus berjanji Min rae, kau harus segera pulang ke Korea. Jika kau mengalami kesulitan kau harus segera menelepon aku atau oppa mu”, ucap Nae Ri eonni sambil melepaskan pelukannya.

“Gomawo eonni”, kataku kepadanya. 

Entah kenapa q bisa kuat mnghadapi semua ini, perceraian dan semuanya yang terjadi padaku. Mungkin karena kasih sayang yang aku dapat dari mereka menguatkanku..

----------------------------------------\\

“Oppa”,kata Nae Ri memecahkan kesunyian.

“Ye,mworago??”, kataku.

“Aku mengkhawatirkan keadaan Min Rae… aku takut dia mengalami kesulitan di Amerika. Apalagi kalau membayangkan persalinannya nanti… aku..aku”, ucapnya sambil terisak.

Ku hentikan laju mobil yang sedang ku bawa, kemudian ku tatap wajah tunangan q itu.

“Nae Ri bukan kau saja yang merasa khawatir, tapi q juga merasakan hal yang sama. Aku merasa tidak bisa melindungi adik q sendiri dan membiarkan dia terlantar dalam keadaan hamil”, ucapku sambil menghela nafas.

“Tapi aku tahu bagaimana sifat adik q itu apabila sudah mengambil suatu keputusan. Dia tidak akan menarik nya kembali, sekarang kita hanya bisa memantaunya saat ini, dan ketika dia dalam kesulitan mungkin di saat itu kita harus segera menopangnya. Hanya itu yang bisa kita lakukan”,kataku sambil menggenggam tangannya.

-----------------------------------------------\\
Aku tak menduga dia masih bisa datang ke sini setelah semua yang dia lakukan kepada adik kesayanganku.
Dia berdiri saat menyadari kedatangan q dan Nae Ri.

“Shin dong…”, kata dia pada q.

“Oh, annyeong Nae Ri”, ucapnya saat menyadari aku tidak sendirian.

“Ada apa kau ke sini hyung”, ucapku dengan penuh amarah.

“Mianhae aku sudah menyakiti Min rae”, kata dia dengan wajah bersalah.

“Tapi bolehkah aku bertemu dengannya, aku ingin memastikan keadaannya sekarang.. Aku..”, kata dia.

“Cukup hyung, apapun yang kau lakukan saat ini tidak akan bisa menyembuhkan sakit di hati Min Rae sampai kapanpun”, ku potong perkataannya sebelum dia sempat melanjutkan semuanya.

“hanya sebentar, aku mohon”, kata dia dengan wajah memelas.

“Hhaah”,setelah menghela nafas ku lanjutkan kata-kataku. “Masuklah ke dalam hyung, kita tidak bisa membicarakan ini jika masih berada di sini. Terlalu beresiko”, ucapku kepadanya.

Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi pada Min rae dan dimanakah keberadaannya.

-------------------------------------------------------\\

“Mwo?? Ke Amerika”, kataku dengan terkejut.

“Ye, hyung..aku dan Nae Ri sudah berkali-kali mencoba menasehatinya untuk memikirkan kembali keputusan ini. Tapi tidak berhasil”, ucap Shin Dong

“Aku akan menyusulnya..”, ucapku sambil berdiri dan beranjak akan pergi.

“Chakkaman… tidak ada gunanya hyung, lepaskan dia. Aku mohon lepaskan dia dan biarkan dia memulai kehidupannya lagi tanpa mengingat kepedihan yang dia alami saat bersamamu”, kata Shin Dong

“Aku mencintainya, aku benar-benar sangat mencintainya. Mianhae Min Rae”, kataku sambil menangis.

---------------------------------------------------------------------------\\\

4 tahun kemudian

“Mommy, q ingin biola”, kata seorang anak laki2 pada ibunya.

“Hae Chul tidurlah, setibanya di Korea eomma akan membelikannya untukmu. Tapi ingat kau tidak boleh berbicara memakai bahasa asing terus”, kata wanita itu membujuk anaknya dengan wajah sedikit mengancam.

“Of Course Mommy, uhps tentu saja eomma. Aku akan melakukannya”, ucap anaknya dengan wajah berbinar-binar.

“Ye, sekarang tidurlah”, kata wanita itu sambil membelai kepala anaknya.

-------------------------------------------------\\\

“wah melelahkan sekali duduk berjam2 di pesawat”, kataku sambil memukul pundakku yang mulai terasa sakit.

“Hae Chul, jangan lari-lari seperti itu”, ucapku saat melihat anak q berlari-lari sepanjang jalan yang dilalui.

“Mommy, where is uncle and aunt?”, tanya dia dengan bahasa yang tentu saja aku sangat tidak menyukainya.

Tapi ini semua kesalahanku memang, dia dibesarkan di Negara orang jadi dia lebih terbiasa dengan bahasa asing dan lingkungan asing nya itu.

“Haah, Hae Chul-ah bukan kah eomma sudah bilang. Kau tidak boleh terus-terusan berbahasa asing di sini?”, kataku mengingatkannya.

“Ye eomma, Im Sorry”, jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang selalu mengingatkanku pada seorang namja yang sangat aku cintai ......dulu.

“Min Rae”, terdengar suara seseorang memanggilku. Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku.

Aku pun mendongak kan kepalaku, dan segera berdiri saat menyadari orang yang telah memanggilku.

“Nae Ri eonni, OMo perutmu”, kataku dan kemudian memeluknya.

“Di mana Shin Dong oppa?”, tanyaku pada Nae Ri eonni.

“Itu..”, jawab Nae Ri eonni sambil menunjuk kea rah dimana Hae Chul sedang berada.

“Yak jagoan paman sudah besar rupanya”, kata Shin Dong oppa sambil mengangkat Hae Chul tinggi2.

“Paman.. >.< “, kata Hae Chul.

Aku tertawa melihat kakak dan putraku bisa tertawa seperti itu, aku sudah lama merindukan kehangatan seperti ini. 

Kehangatan yang telah hilang selama bertahun-tahun.
Tanpa aku sadari, air mataku menetes..

“Min Rae”, ucap Nae Ri eonni sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Kau harus tegar, ingatlah ada Hae Chul sekarang. Dan kau sebagai eomma nya harus bisa menjaga dia”, kata Nae Ri eonni.

“kajja, kita segera pulang. Makan malam sudah menanti”, ucap Shin Dong Oppa mengajak aku dan Nae Ri eonni untuk segera meninggalkan bandara.

------------------------------------------------\\\\

“Oppa, kau lihat tadi… aku tidak tega melihat Min Rae seperti itu”, kata Nae Ri  sesampainya di rumah dan Min Rae serta Hae Chul sudah masuk ke kamar mereka.

“Aku tahu chagi, aku juga tidak tega melihat adik yang sangat aku sayangi menderita seperti ini selama bertahun-tahun. Jauh dari lelaki yang dicintai serta ayah dari anaknya”, jawabku sambil menghempaskan diri di tempat tidur.

Tiba-tiba saja terpikir sebuah rencana…

“Chagi”, panggilku pada Nae Ri.

“ada apa oppa”, jawabnya.

“Ke sinilah, aku punya sebuah rencana”, kataku membisikkan sesuatu padanya.

Awalnya dia sedikit terkejut dengan rencanaku ini, tapi setelah aku meyakinkan dia. Dia pun mau membantuku.

----------------------------------------------------------------\\

“kemana Min rae, kenapa dia tidak ikut sarapan bersama-sama dengan kita”, tanyaku pada Nae Ri saat menyadari adik q tidak ikut sarapan bersamaku dan Hae Chul.

“Pagi2 sekali dia meninggalkan rumah, katanya dia harus segera pergi. Ada pekerjaan katanya”, jawab Nae Ri.

“Jinja? Ish, adik q itu kenapa dia begitu gila bekerja. Apa dia lupa ada Hae Chul sekarang..”, ucapku sambil melihat Hae Chul yang sedang bermain2 dengan Shiro, anjingku. (^^ author kumat ngawur, anjingnya sinchan di bawa-bawa :p)

“Hae Chul…”, panggilku.

“Ya paman”, jawabnya sambil berjalan ke tempatku.

“Kau sudah makan kan tadi?”, jawabku.

“Tentu saja”, jawabnya sambil menggembungkan pipinya.

Lucu sekali keponakan ku ini, ku cubit pipinya. Aku sangat menyayangi jagoan kecil ini.. ^^~

“Kajja, paman akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan”, ajak ku padanya.

“Hore…”, teriak Hae Chul dengan wajah gembira.

Nae Ri tersenyum melihat apa yang aku lakukan. Setelah berpamitan dengan istriku dan mencium pipinya, aku pun segera menuju tempat yang aku rencanakan. 


Dorm tempat anak-anak Super Junior biasanya berkumpul.
Di sepanjang perjalanan, setiap melihat sesuatu Hae Chul pasti menanyakan padaku. Dan sialnya, dia selalu memakai bahasa asing =.=… ottokhe, apa dia tidak tahu pamannya ini minim kata-kata seperti itu.

HUhuhuhu, Min Rae apa yang telah kau lakukan pada keponakanku ini sampai dia menjadi bule seperti ini >…….<

-------------------------------------------------------------------\\

“sial sekali aku, baru sampai di Korea sudah di minta melakukan pemotretan”, ucapku dalam hati.

Aku duduk untuk istirahat sejenak, ku ambil ponselku dan ku ketik nomor rumah Shin Dong oppa. Aku ingin tahu apa yang ssedang di lakukan Hae Chul saat ini, aku tidak ingin dia melakukan keusilan pada Nae Ri eonni.

 Kasihan eonni kalo stress menghadapi putraku itu, apalagi saat ini dia sedang mengandung.

“Yeoboseyo”, terdengan suara Nae Ri eonni di seberang.

“Yeoboseyo, na ya eonni. Min Rae… Hae Chul sedang apa eonni?”, tanyaku padanya.

“Oh, Hae sedang bermain-main dengan oppa”, jawab eonni.

“Syukurlah kalo begitu eonni, gomawo”, jawabku sambil memutuskan telepon.

“Ah betapa leganya, ada keluargaku di sini. Jadi aku bisa yakin, Hae Chul tidak akan kekurangan kasih sayang meskipun dia tidak mempunyai appa”, ucapku lirih.

-------------------------------------------------------------------------------

“Kita sudah sampai…”, kataku pada Hae Chul yang ternyata sudah tertidur pulas =.=”

“Aduh kenapa dia mirip sekali eomma nya, dimana2 hobinya selalu tidur”, ucapku lirih kemudian membuka pintu mobil dan menggendong jagoan kecil itu dengan pelan-pelan agar tidak terbangun.

Wajah kecil ini begitu polos, kasian sekali di masa-masa dia membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap.................dia tidak bisa mendapatkannya.

Ku buka pintu dorm, dan bisa kalian duga. Semua orang di dalam ruangan terkejut melihat keberadaan ku bersama Hae Chul.

“Woo, Hyung? Anak sapa ini yang kau culik?”, kata si evil Kyuhyun saat melihatku.

“Hish, kau ini”, kataku sambil ku pukul kepalanya.

“Aww, sakit hyung”, jawab dia dengan wajah seolah-olah pukulanku benar-benar menyakitkan.

“Jahat sekali kau padaku hyung”, katanya sambil terus menggerutu.

Tiba-tiba saja Sungmin Hyung sudah mendekat ke sofa tempatku membaringkan Hae Chul tadi.
“tampan sekali anak ini”, kata Hyung ku itu.

“Tentu saja, dia meniru aku..pamannya”, jawabku dengan bangga.

“Chakkaman, paman? Dirimu?”, kata Si Won dengan wajah kebingungan.
“Ye,..dia keponakanku dari Min Rae”, jawabku.

“Mwo???????”, jawab semuanya dengan penuh kebingungan.




------------------To be continued---------------------------------------------------------------------------------------



Sabtu, 01 Oktober 2011

0

Gone [Part 1]


GONE
[part 1] Teuki and Shin Min rae series
Cast      : Leeteuk, Shin Min Rae, member Super Junior
Author : Sewonny

Terinspirasi dari acara Hello Baby dan yang terbaru adalah We Got Married yg sedang diikuti Teuki oppa. Ni fan fiction adalah tumpahan ketidak relaan aku dia mengikuti acara we got married berpasangan ma kang Sora. Ok, Im just fan and Im just wanna said about my opinion. Just it, and no more... :p
But, sukses terus buat Teuki oppa... mungkin series ini yang terakhir akan ku buat dengan main cast dia. Hehehe...udah waktunya aku ganti bias, jeng jeng jeng.... ^^

Chek this out, and pliz say what do u feel when u read it..gomawo

Aku segera bergegas menuju tempat ganti  pakaian, tak ku perhatikan orang-orang yang menatapku dengan heran. Aku tak peduli lagi, Min Rae kau tak boleh menangis. 

Hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa menahan air mata yang  seakan ingin jatuh dan mengalir dengan deras ini. Tanpa ku sadari aku telah sampai di depan ruangan itu, ku hela nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan.

Ku buka pintu ruangan itu dengan keyakinan……



“Min Rae-ssi?, annyeong”, kata Yesung Oppa menyapaku.


“Annyeong  oppa”, jawabku dan kemudian mengalihkan pandangan ke sekitar untuk melihat apakah dia ada di sini.

“Kau mencari Teuki hyung?”, tanya Sungmin oppa.              
 
Sebelum q sempat menjawab pertanyaan Sungmin oppa, tiba2 saja pintu ruangan itu terbuka. 
Aku menoleh, dan melihat dia…ya Teuki oppa, suamiku yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku >.<

“Huah melelahkan sekali interview hari ini, semoga respon penonton bagus”, kata dia sambil duduk dan meminum sebotol air mineral yang di dapatnya di atas meja. 

Ku rasa dia belum menyadari keberadaan ku sampai Wookie oppa meminta dia untuk mengalihkan pandangan ke arahku.

“Oh, chagi.. mworaguo?”, kata dia.

“ada masalahkah?”, lanjutnya sambil berdiri dan kemudian berjalan mendekatiku.

“Oppa, ada yang ingin aku katakan. Tapi akan lebih baik kalau empat mata saja”, kataku sambil memandang semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

Seolah-olah mereka semua menyadari keinginanku, mereka meninggalkan ruangan itu hampir secara bersamaan.

“Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin”, ucap Eunhyuk oppa sebelum menutup pintu ruangan dan pergi keluar mengikuti yang lain.

“Ye oppa, gomawo”, jawabku yang aku yakin dia belum sempat mendengarnya.

Wajah suamiku seperti kebingungan, tapi aku yakin dia tahu pasti kemana arah pembicaraan ini akan ku bawa.

“Chagi, kau tau kan ini hanya….”, sebelum dia sempat meneruskan perkataannya aku sudah memotongnya dulu.
“Oppa, duduklah..keliatannya kau begitu kelelahan”, ucapku dengan lembut.

Wajahnya benar-benar kebingungan, dan sepertinya aku akan tertawa karena hal yang tidak lucu ini.
“Ani, bagaimana aku bisa duduk kalo kau hanya berdiri juga chagi”, jawabnya.

“Baiklah, mari kita bersama-sama duduk”, jawabku.

Kami berdua duduk meskipun tidak berdekatan, kemudian aku mengambil sesuatu dari tas yang aku bawa. Ku berikan benda itu kepadanya.

“Apa ini?”, tanyanya.
“itu sesuatu yang kita butuhkan saat ini oppa”, ucapku sambil menghela nafas dalam-dalam. 
Entah kenapa aku merasakan suhu ruangan ini seolah-olah memanas dan itu benar-benar membuatku tidak nyaman.

“Bukalah”, kataku lagi saat sempat aku melihat dia masih ragu dan menatap amplop itu.

“Itu surat perceraian kita oppa, aku ingin kita bercerai”, ucapku datar.

“Mwo? Kau sudah gila chagi?”, tanya Teuki oppa padaku.

“Ye, dan aku mungkin akan benar-benar gila kalau aku masih terus menjadi istrimu oppa”, ucapku padanya.
“Andwee, aku tidak ingin berpisah apalagi bercerai denganmu chagi”, kata dia sambil mencoba meraih tanganku, namun aku menepisnya.

“Kalau ini karena variety show yang aku lakukan, ini tidak boleh chagi. Kau harus tahu, ini semua hanyalah tuntutan profesiku”, ucapnya dengan tegas.

Aku benar-benar sudah muak dan bosen mendengar pembelaannya, kata-kata yang sama dari orang yang sama. Dan sungguh, jujur aku katakan aku bosan dengan itu semua.

“Mianhae oppa, kakkhe”, ucapku dengan tegas tanpa melihat nya.

“Kajima!!!”, ucap dia saat melihatku beranjak akan pergi.

“Sudahlah oppa, ini semua sudah berakhir. Aku yang bersalah karena menikah tanpa banyak pertimbangan terlebih dahulu. Tapi, ternyata aku benar-benar mencintaimu. Hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan”, kataku.
“Karena itu ku mohon jangan membuat aku lebih menderita lagi oppa, marilah kita berpisah dan mengakhiri semuanya sampai di sini”, lanjutku dan kemudian melangkah keluar.

Di luar ruangan aku tak mampu lagi menahan air mataku, pernikahan yang selama ini begitu ingin aku pertahankan tiba-tiba saja aku sendiri yang menghancurkannya.
Tapi ini lebih baik, karena cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi.

----------------------------------------------

Aku terduduk lemas, tak ku sangka istriku akan berbuat seperti itu. Memang q yang salah, aku tidak pernah memikirkan perasaan dia selama ini. 
Aku hanya mengejar karir ku, dan untuk itu aku telah mengorbankan perasaan wanita yang mencintaiku selama ini.

“Ottokhe, ottokhe”, kataku sambil menundukkan kepalaku.

Aku tak mampu menahan kepergiaannya tadi, karena aku tahu aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan pernikahan kami. Ku lihat kembali amplop itu, dan ku baca surat perceraian itu.
“Apakah memang harus berakhir seperti ini?..Apa memang sudah tidak ada jalan lagi untuk mempertahankan semua ini”, ucapku dalam hati.
Aku benar-benar tidak becus melakukan apapun. Lelaki apa aku ini yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya sendiri.


---------------------------------------------------------------------------------

Ku minum air mineral yang diberikan manajer kepadaku, tapi tiba2 saja rasa mual menyeruak dan memaksaku untuk segera lari ke toilet.

“Wuek…wuek”,aku pun memuntahkan semua yang ada di dalam perutku.

Ku cuci tanganku dan ku seka mulutku. Sudah seminggun lebih aku seperti ini, dan bisa kalian duga. Aku sedang hamil. Aku hamil di saat sedang mengurus proses perceraianku dengan Teuki oppa. 
Ah, benar-benar sesuatu yang tak pernah ku bayangkan. Ku elus perutku, entah kenapa aku merasakan kebahagiaan. Ya, meskipun aku akan berpisah dengan teuki oppa, paling tidak aku memiliki buah hati darinya. Buah hati yang akan ku jaga dengan sepenuh hati.

Tidak ada yang mengetahui kehamilanku, selain dokter yang memeriksaku tentunya...bahkan teuki oppa tidak mengetahui dan tidak akan pernah akan kubiarkan tahu semua ini.

Aku kembali ke tempat pemotretan q tadi, di sana manajer q sedang melihat-lihat foto hasil dari pemotretan. Entah apa yang sedang dibicarakan manajerku dengan  fotografer itu, yang jelas tiba2 saja kepalaku pusing sekali dan mendapati segala sesuatu nya menjadi gelap gulita.

------------------------------------------------------------

Saat terbangun, aku mendapati diriku sedang terbaring di sofa tempat ruang ganti pakaian. Dan aku rasakan seseorang menggenggam tanganku dengan erat. Saat aku menoleh betapa terkejutnya aku, ternyata Teuki oppa lah yang sedang menungguiku.
Pelan-pelan ku lepaskan tanganku dari genggamannya agar dia tidak terbangun, ku sisihkan poni yang menutupi dahinya.

“Tampan sekali suamiku ini”, ucapku dalam hati dan tiba-tiba saja aku ingin menangis.
Sungguh akhir-akhir ini aku menjadi semakin cengeng saja.
Dia terbangun mendengar isak tangisku.

“Min rae-sshi, mworago? Ada yang sakit kah?. Apakah ada yang sakit dengan kandunganmu?”, kata dia dengan wajah yang diliputi kecemasan dan perasaan bersalah.

“Ottokhe?!! “, kataku.
“Sudahlah chagi, dokter yang memberi tahuku tadi bahwa kau sedang hamil”,ucapnya.

“Chagi…kenapa kau tidak memberitahuku?”, tanya dia dan menatapku dengan penuh kelembutan.

“Karena ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu oppa”,kataku dengan dingin.
“Ini anakku, dan karena itulah aku merasa kau tidak perlu tahu segala sesuatu tentang nya”, lanjutku.
Dia terkejut sejenak, dan kemudian melanjutkan perkataannya tadi.

“Aku tahu, sebentar lagi kita akan berpisah dan aku pun tau aku tak akan mampu membuatmu untuk menarik surat cerai itu dari pengadilan”, dia menghela nafas sejenak.

“Tapi, ijinkan aku menjadi seorang ayah yang baik untuknya..paling tidak meskipun aku tidak bisa menjadi suamimu seutuhnya, beri kesempatan aku menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab Min Rae-sshi”, ucapnya dengan tulus.

Ku lihat wajah namja itu, dan sejujurnya aku bisa meyakinkan hatiku bahwa tidak ada kebohongan di sana.. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?, ucapku dalam hati.

“Beri aku waktu oppa, jadi untuk saat ini biarkan aku menyendiri dulu untuk memikirkan hal apa yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk bayi di dalam kandunganku ini”, kataku padanya.

“Baiklah Min Rae-sshi, beristirahatlah. Kakkhe..”, ucapnya kemudian dia beranjak pergi dari ruangan itu setelah sempat mencium dahiku sekilas.

Aku benci semua ini, aku benci karena menyadari bahwa ternyata aku begitu mencintainya… dan akhirnya aku menangis lagi sesaat setelah dia meninggalkan ruangan ini..


 ---------------------------------- to be continued-----------------------------------------------------------------------